Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNM PTN)

by 3:41 AM


Seleksi penutupan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNM PTN) berakhir 22.00, Senin (14/3/2016) menunjukkan pendaftar PTN paling banyak diSurabaya terdapat pada Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Di Unesa pendaftar tercatat 29.779 peserta, mengungguli 4 PTN di Surabaya lainnya.
Pendaftar terbanyak pada prodi manajemen mencapai 3.858 orang. Disusul prodi PGSD dengan angka 2.185 pendaftar dan prodi akuntasi mencapai 2.127 pendaftar.
Rektor Unesa Warsono menyatakan jumlah pendaftar tahun ini tidak terlalu banyak dibandingkan tahun lalu yang mencapai 40.000 pendaftar.
"Tahun lalu tidak ada pembatasan kuota, jadi semua bebas daftar, kalau sekarang ada kuota tiap sekolah,” terangnya saat dikonfirmasi pada Selasa (15/3/2016).
Dia menambahkan penerimaan lewat jalur SNMPTN juga berkurang dari 0 persen kuota keseluruhan menjadi 40 persen.
Sehingga Warsono mengimbau peserta juga mendaftar lewat jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi negeri (SBMPTN) sambil menunggu pengumuman SNMPTN.

MAWAPRES UNESA

by 3:37 AM


infomahasiswaunesa Mawapres 2016 kembali digelar. Kegiatan pemilihan mahasiswa berprestasi ini merupakan salah satu acara yang pamungkas penyaluran minat dan bakat mahasiswa Unesa. Memang, serangkaian acara khusus digeber guna menjaring potensi-potensi mahasiswa Unesa. Menurut  Kabag Kemahasiswaan Unesa, serangkaian kegiatan tersebut yakni pemilihan Mawapres, Debat Bahasa Inggris serta Pekan Olahraga dan Seni. Sebelumnya peserta Mawapres dijaring di tingkat jurusan kemudian mengerucut hingga sampai diperoleh kontestan tiap fakultas. Seolah mewakili kualitas dari potensi mahasiswa berprestasi Unesa, kegiatan inti Mawapres yang diadakan kali ini menyuguhkan karya ilmiah dari tiap peserta perfakultas yang ada di Unesa.

Kegiatan ini digelar pada Kamis (14/04/2016) bertempat di Auditorium lantai 3 Rektorat Unesa Kampus Ketintang. Tidak hanya kontestan dari S1 namun juga meliputi kontestan D3 menjajaki persaingan ketat memperebutkan gelar Mawapres 2016 . Dr. Samsul Sodik, M. Pd sebagai salah satu pendamping kontestan Mawapres dari Fakultas Bahasa dan Seni menanggapi baik iklim persaingan untuk menyandang gelar jawara Mawapres 2016. Bahkan lebih lanjut, Sodik, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni memberikan keterangan lanjutan kualifikasi mahasiswanya sebagai kontestan (Pegy, red)  memiliki IPK 3,9. Tidak hanya itu, kontestan juga sebagai aktivis BEM dan Senat Unesa serta menjuarai beberapa debat Bahasa Inggris. Sebagai tambahan, seolah mewakili pentingnya proses penjaringan, Dekan FBS memberikan saran, "Mahasiswa berprestasi harus dipersiapkan dengan matang, salah satunya dengan sistem pengkaderan untuk tahun 2017", tandasnya. Menyimak dari keterangan sebelumnya, dalam pemilihan Mawapres yang akan datang beliau mengharapkan sebelum diadakan Mawapres 2017 dari tiap fakultas memiliki kader-kader calon kontestan yang memang sudah dipersiapkan dan dibina guna menjadi cikal bakal jawara Mawapres 2017 yang mumpuni.

Kezia Eka sebagai salah seorang kontestan dari Fakultas Teknik melalui karya ilmiah Program Optimalisasi Ketahanan Pangan bahwa dengan adanya Mawapres 2016 menyadari sebagai wadah belajar dan pengalaman yang menggiurkan. Membutuhkan waktu kurang lebih 1 bulan dalam menyusun karya ilmiah. Eka menuturkan, "Tujuan utama tentu sebagai pemenang selain itu saya juga bertekad mendukung penuh juara Mawapres tahun 2016 karena sebagai satu almamater Unesa", ujarnya.  Lebih jelas lagi Eka menuturkan, "Sebenarnya karya-karya ilmiah Unesa secara kuantitas banyak namun secara kualitas belum mumpuni sehingga perlu adanya kontestan tiap fakultas kembali ke fakultas masing-masing guna membina calon kader-kader selanjutnya", tandasnya.
Keterangan lain, M. Nurul Ashar  dari Fakultas Ilmu Pendidikan yang kali kedua mengikuti Mawapres, acara kali ini sedikit berbeda dengan Mawapres tahun lalu. Ashar dengan karya ilmiah Deteksi Dini Autis, merasakan Mawapres 2016 lebih ramai dibandingkan Mawapres tahun lalu. Kontestan dari FIP ini menuturkan, "Ajang ini lebih hidup dengan adanya supporter (mahasiswa Unesa, red), hal ini sama saja membangkitkan motivasi mereka untuk menjadi mahasiswa berprestasi", tandasnya. (Raras/KK/Humas)

KONTROVERSI UNESA OLEH BIROKRASI

by 3:23 AM


infomahasiswaunesa Mahasiswa 2009 Universitas Negeri Surabaya benar-benar dibuat ketir-ketir oleh birokrasi. Bagaimana tidak, diusianya yang sudah 6tahun 10bulan dan sudah bernafas senin jumat, sudah akut lah. Mereka masih banyak yang tertahan kelululasanya karena syarat administrasi. Administrasi tersebut berupa TEP alias Test of English Proficiency. "TEP merupakan syarat mutlak yang tak bisa diganggu gugat", kata salah satu mahasiswa 2009 Fakultas Teknik setelah selesai dialog bersama birokrasi untuk mencari solusi terbaik di gedung A1 lantai 2 FT Unesa.
    Seharusnya birokrasi terutama rektorat lebih bijak dalam memberikan peraturan. Analoginya adalah jika ada orang tua punya anak perempuan, orang tua tersebut memberikan syarat menantunya harus sarjana. Apakah jika menantunya bukan sarjana lantas anaknya tidak boleh menikah sampai kapanpun? Tentu tidak, karena syarat nikah pertama bagi saya adalah berlawanan jenis kelamin, baru ada syarat-syarat lain. Tambah mahasiswa tersebut
       Ada lagi seorang mahasiswa yang ikut memberikan pernyataan, seharusnya mereka (birokrasi) lebih melek bahkan melotot realita kami sebagai mahasiswa dan calon pengangguran yang terbebani oleh TEP. Mereka (birokrasi) wajib mengkaji kaidah maslahat (manfaat) dan mudarat (keburukan) menggunakan TEP sebagai syarat lulus. Silahkan kroscek didunia nyata, dunia luar kampus, berguna atau tidak sertifikat TEP tersebut bagi kami. Sekarang sudah jamanya TOEFL, IELTS dan TOEIC, dan sertifikat kemampuan bahasa inggris tersebut yang diakui adalah sertifikat dari ITS dan UNAIR untuk beasiswa ataupun perusahaan yang mencantumkan syarat sertifikat TOEFL, IELTS dan TOEIC, sekali lagi saya tekankan sertifikat TOEFL, IELTS dan TOEIC bukan sertifikat TEP. 
       Jadi intinya kami ingin birokrasi mengkaji tentang syarat yang mohon maaf kami anggap konyol ini. Jika tadi adalah forum dialog untuk menemukan solusi atas keterlambatan kelulusan kami, maka solusi konkrit dari kami adalah MERUBAH SYARAT TEP DENGAN NILAI MINIMAL 400 MENJADI PERNAH MENGIKUTI TEP SEBANYAK 10, 15 20 ATAU BERAPAPUN YANG SEKIRANYA KAMI TIDAK TERBEBANI tolong dicetak huruf balok solusi dari kami itu. Saya sudah 1 tahun gagal wisuda hanya karena TEP ini mas. penutup dari seorang mahasiswa yang ditunjuk sebagai koordinator/perwakilan dari 2009 Teknik Mesin Unesa.
      Oke mari coba kita hitung, manfaat dari diberlakukanya syarat TEP tersebut adalah untuk menganggkat great atau kemampuan mahasiswa. ada lagi????? sementara itu penulis hanya tahu itu saja
Sedangkan mudharatnya dibagi menjadi dua yaitu sebelum lulus adalah  menghambat mahasiswa, menambah biaya, mengulur waktu, mengulur tenaga (kata mahasiswa yang kuliahnya disambi kerja) dan mudarat setelah lulus, sertifikat tidak ada gunanya baik untuk mengajukan beasiswa s2 atau untuk melamar kerja.
So, penting atau tidak sih TEP jadi syarat yudisium bahkan syarat sidang skripsi???
Powered by Blogger.